Etika dan Tutur Sapa Masyarakat Danau Toba

Masyarakat Lokal di Daerah Tujuan Wisata di Samosir

Seperti yang telah diamati, bahwa sebagian besar masyarakat lokal samosir kurang santun dalam berbicara khususnya kepada para wisatawan yang datang ke Pulau Samosir. Hal ini disebabkan karena kurangnya kepedulian mereka terhadap perkembangan pariwisata di samosir, Kurangnya penyuluhan sadar wisata dari pemerintah setempat terhadap masyarakat lokal atau bahkan tidak ada sama sekali. Bahwa pentingnya peran etika dan bebicara mereka demi terwujudnya rasa aman dan nyaman para wisatawan.Beberapa masyarakat lokal yang lainnya bahkan memiliki tutur sapa yang baik, sehingga dapat menimbulkan rasa aman dan nyaman bagi para wisatawan. Contohnya, menyapa para wisatawan yang lewat di hadapan mereka dan menyampaikan sebuah saran yang baik, memberikan senyuman yang menunjukkan bahwa mereka senang dan bangga karena kedatangan para wisatawan di daerah mereka.

Di tempat-tempat penjualan cendramata di samosir yang di fokuskan di Tomok dan Ambarita, dapat dijumpai bermacam-macam sikap dan perilaku mereka dalam melayani para pembeli. Sebagian besar dari mereka terkesan memaksa dengan nada bicara yang kurang enak di dengar dan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan kepada para wisatawan yang dalam hal ini selaku pembeli. Mereka terkadang seperti mengumpat para wisatawan yang sudah menawar dan tidak jadi membeli dengan bahasa lokal mereka (bahasa batak). Sehingga dapat membuat para wisatawan menjadi tidak enak hati dan merasa risih.

Sikap yang seperti ini seharusnya dihapuskan dari kebiasaan mereka. Karena bagaimanapun juga pembeli adalah raja, yang harus dilayani dengan baik. Terhadap para wisatawan yang notabenenya bukan penduduk asli samosir, mereka dengan sesuka hati menawarkan barang dengan harga yang tinggi. Hal ini cenderung dilakukan terhadap wisatawan mancanegara. Padahal para wisatawan tersebut juga rata-rata telah mendapatkan referensi harga barang yang dijual dari tour guide mereka masing-masing.

Di Tomok, kita dapat melihat kuburan batu Raja Sidabutar dan patung sigale- gale. Dengan di dampingi guide lokal yaitu masyarakat lokal asli Tomok yang memberikan penjelasan dan sejarah singkat tentang Kerajaan Tomok yang dipimpin oleh Raja Sidabutar dengan sangat menarik sekali, sehingga membuat para wisatawan tidak merasa bosan datang, duduk, melihat dan mendengarkan sejarahnya Kerajaan Tomok tempo dulu.


(Tour Guide lokal di Tomok)

Di ambarita, kita dapat melihat komplek rumah bolon huta siallagan, batu kursi persidangan, dan tempat pemasungan pada masa Kerajaan Raja Siallagan. Di dampingi juga oleh guide lokal yaitu masyarakat lokal asli Ambarita yang memberikan penjelasan dan sejarah singkat tentang Kerajaan Siallagan. Dengan cara penyampaian yang sama sekali tidak menarik, berbicara dengan cepat, dan intonasi yang kurang jelas sehingga dapat membuat para wisatawan cepat merasa bosan.


(Tour Guide lokal di Ambarita)

Dan ada pula dari mereka yang mungkin sudah mengerti bagaimana sebaiknya mereka memperlakukan para wisatawan agar dengan senang hati merespon tawaran mereka dan jadi membeli di tempat mereka. Dengan senyuman dan tutur sapa yang baik, tanpa kata-kata yang kasar dan memaksa. Namun sayangnya hanya sebagian kecil saja diantara mereka yang memiliki sikap seperti ini. Apabila hampir 80% saja diantara mereka bersikap seperti ini, maka ada kemungkinan semakin banyak wisatawan yang datang secara berkelanjutan.

0 komentar:

Posting Komentar

Powered By Blogger

Pengikut

Google Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Welcome ..... Selamat Datang

Olahraga

Berita Dunia